SEBAGIAN orang di dunia ini percaya dengan indera keenam. Seperti
kita ketahui, manusia umumnya mempunyai lima indera, namun konon,
sebagian orang—utamanya anak-anak—dianugerahi indra keenam itu. Sering
juga disebut anak indigo.
Kata indigo sendiri diambil dari nama warna yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet.
Terkait fenomena anak indigo, ada beberapa catatan yang bisa kita beri garis tebal,
Pertama, islam tidak menolak realita
Sebelumnya, mari kita memahami peta realita berikut,
Realita dibagi menjadi dua:
1. Realita syar’i: itulah semua berita yang disampaikan dalam
Al-Quran dan sunah yang sahih. Misalnya: meteor yang memancarkan cahaya
di langit, sejatinya adalah panah api untuk melempar setan yang
berusaha mencari berita dari langit. Sebagaimana yang disebutkan dalam
Al-Quran surat al-Jin ayat 9. Meskipun kita tidak pernah melihat
peristiwa ini dengan kasat mata, namun mengingat hal ini Allah ceritakan
dalam Al-Quran maka wajib kita yakini, karena demikianlah realita yang
ada. Contoh lain: Jibril memiliki 600 sayap, sebagaimana dinyatakan
dalam hadis riwayat Bukhari. Meskipun kita tidak pernah melihat wujud
asli Jibril, namun mengingat hal ini disebutkan dalam hadis shahih, maka
wajib kita yakini.
2. Realita kauni merupakan semua kejadian yang Allah ciptakan
di alam ini. Misalnya, ada orang melihat kejadian aneh, kemduian dia
abadikan gambarnya, lalu dia share ke yang lain. Kita tidak mungkin
mengingkari kejadian ini, karena orang yang melihat langsung membawakan
bukti asli sesuai yang dia saksikan.
Penyimpangan terhadap dua realita di atas, kita sebut berita dusta.
Jika berita dusta itu terkait masalah syariat atau keyakinan,
diistilahkan dengan tahayul. Misalnya: berita bahwa pada hari rabu
terakhir di bulan safar, akan turun 320 ribu bencana. Berita ini masuk
dalam ranah masalah ghaib. Karena indera manusia tidak pernah mendeteksi
320 ribu bencana yang turun di hari itu. Sehingga untuk membuktikan
kebenaranya, kita perlu kembalikan kepada dalil, adakah ayat atau hadis
shahih yang menyebutkannya. Jika tidak ada, termasuk tahayul, yang tidak
boleh diyakini.
Anda bisa menimbang semua informasi masalah ghaib yang simpang siur
di sekitar kita dengan cara di atas. Sehingga kita bisa membedakan
antara keyakinan yang benar dengan tahayul semata.
Fenomena indigo termasuk realita yang bisa kita saksikan. Ada anak
yang berkomunikasi dengan makhluk lain, atau dia melihat makhluk lain,
dan itu asli tidak dibuat-buat.
Sebatas kejadian yang bisa kita lihat, termasuk fenomena kauni.
Kejadian yang Allah ciptakan di alam ini. Selama kejadian itu memang
benar-benar ada, islam tidak melarang kita untuk membenarkannya, karena
islam tidak menolak realita.
Kedua, kemampuan dasar makhluk
Islam tidak menolak fenomena indigo jika memang itu realita. Kita
boleh meyakininya, selama kejadian itu memang benar-benar ada di sekitar
kita. Namun realita yang boleh kita yakini dalam hal ini hanya sebatas
yang bisa kita lihat. Sementara tentang hakikat anak indigo, perlu
kajian yang lebih serius utnuk bisa menjelaskan dan memberi komentar.
Di sini kita tidak menggali hakikat dan sebab si anak menjadi indigo.
Sebagian ahli medis menyebutkan, anak indigo mengidap ADHD (Attention
Deficit Hyperactivity Disorder), semacam gangguan perkembangan dan
keseimbangan aktivitas motorik anak sehingga menyebabkan aktivitasnya
tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ada juga yang menyebutkan, anak
indigo bisa seperti itu karena memiliki kemampuan melihat jin. Dan
beberapa analisis lainnya.
Hanya saja ada beberapa informasi tentang anak indigo yang
disuasanakan berlebihan. Sebuah analisis ‘ngawur’ menyebutkan beberapa
kemampuan luar biasa anak indigo,
- Prekognision: kemampuan memprediksi dan membuat peristiwa yang akan terjadi di masa depan.
- Retrokognision: kemampuan melihat peristiwa di masa lampau.
- Klervoyans: kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain.
- Psikometri: kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengan
objek apapun. Dia menerjemahkan getaran dan gelobang yang dipancarkan
setiap benda yang menyimpan rekaman suatu peristiwa.
- Mediumship: kemampuan untuk menggunakan rohnya dan roh makhluk lain sebagai medium, serta bisa berkommunikasi dengan roh.
- Telekinetik adalah kemampuan untuk menggerakkan benda dari jarak jauh.
- Sugesti hipnosis: Anak Indigo dapat menghipnosis seseorang dengan kemampuan telepatinya.
- Berkomunikasi dengan Tuhan: Kemampuan ini berhubungan dengan cakra
mahkota pada bagian atas kepala yang merupakan pintu komunikasi antara
manusia dengan Tuhan.
Jika kita perhatikan kemampuan di atas, bisa disimpulkan bahwa anak
indigo tak ubahnya seperti seorang Nabi. Karena satu-satunya manusia
yang kita kenal memiliki kemampuan hebat seperti di atas hanya para
nabi, atas bimbingan wahyu dari Tuhannya.
Namun sayang, banyak juga mereka yang mempercayai hal ini, terutama
para budak klenik dan ramalan. Anak indigo siapapun dia, tetap manusia.
Dia tidak akan melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Semua
kemampuan di atas, sejatinya tidak mungkin dimiliki manusia, selain Nabi
yang mendapat wahyu dari Allah.
Ketiga, indigo dan jin
Bagian ini perlu kita kupas ulang, karena memungkinkan untuk
dilakukan pendekatan berdasarkan dalil. Beberapa laporan menyebutkan
anak indigo melihat sesuatu yang tidak kita lihat.
Ada dua kemungkinan yang dia lihat, antara malaikat atau jin. Untuk
malaikat, dipastikan tidak mungkin. Karena malaikat hanya akan melakukan
tugas yang diperintahkan Allah. Sementara tidak mungkin malaikat
melakukan tugas kecuali untuk sesuatu yang penting.
Dengan demikian, yang lebih pasti adalah jin. Anak ini melihat jin. Apa mungkin? Sangat mungkin.
Allah tegaskan dalam Al-Quran ketika membahasa tentang iblis:
“Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian
dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27).
Inilah sifat asli jin. Dia tidak bisa dilihat oleh manusia. Akan
tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa
terindera oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba.
Sebagaimana kisah Ubay bin Ka’ab
radhiyallahu ‘anhu pada hadis berikut,
Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay
bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami
(manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi…
Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari
(gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi,
maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay
menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal
itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim, Ibnu
Hibban, Thabarani dan lainnya, Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani
Jayyid)
Kejadian yang sama juga pernah dialami Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menangkap jin yang mencuri makanan zakat fitrah.
al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Jin terkadang menjelma dengan
berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya.
Firman Allah
Ta’ala,
‘Sesungguhnya iblis dan para
pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak
bisa melihat mereka,’ khusus pada kondisi aslinya sebagaimana dia
diciptakan.” (Fathul Bari, 4:489).
Karena itu, jika benar anak indigo melihat jin, bukan karena dia
memiliki kemampuan khusus melebihi yang lain, sehingga bisa melihat jin.
Namun karena ada jin yang menampakkan diri kepadanya.
Keempat, Kondisi tidak Normal
Catatan tambahan yang penting untuk disebutkan. Kejadian anak indigo
sejatinya adalah kondisi tidak normal. Baik karena sebab ADHD atau
melihat jin. Karena normalnya manusia, dia hanya bisa berinteraksi
dengan sesuatu yang bisa memberikan respon kepadanya. Jika sebabnya
karena gangguan kejiwaan, bisa dilarikan ke ahli penyakit terkait,
sehingga bisa dilakukan penanganan.
Demikian pula jika indigonya disebabkan melihat jin. Juga termasuk
kondisi tidak normal. Karena dalam kondisi normal, sejatinya mansuia
tidak bisa melihat jin. Ketika ada orang yang melihat jin, berarti dia
tidak normal. Karena tidak normal, kasus semacam ini perlu dinormalkan
(baca: diobati). Melihat jin, berarti ada jin yang usil dan
mengganggunya. Dia harus usir jin ini agar segera meninggalkannya. Jika
tidak, akan sangat sulit bagi si anak untuk melepaskan diri dari
gangguan jin itu. [konsultasi syariah]