H Achmad Michdan selaku kuasa hukum Trio Mujahid Jepara berharap,
kasus eksekusi mati terhadap murtadin Omega Suparno bisa menjadi
pelajaran penting bagi masyarakat tentang arti dari sebuah toleransi
beragama.
“Buat kita yang penting bagaimana menyimak arti perkara ini. Perkara
ini menjadi pelajaran berharga terhadap masyarakat secara utuh gitu,”
kata Michdan kepada voa-islam.com pada Kamis (18/7/2013).
Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) ini juga menjelaskan,
keberagaman dan kebebasan beragama bukan berarti bisa disalahartikan
dengan bebas untuk murtad, atau menyudutkan agama Islam.
...Keberagaman beragama disini jangan disalah artikan gitu lho,
toleransi, sehingga bisa menyebabkan memaksa seseorang untuk pindah
agama dan lain sebagainya, atau menyudutkan agama lain, yakni Islam...
Toleransi beragama, lanjut Michdan juga jangan ditafsirkan dengan
bebas menghina dan melecehkan agama Islam sebagaimana yang dilakukan
oleh murtadin Omega Suparno atau para penginjil dan missionaris lainnya.
“Keberagaman beragama disini jangan disalah artikan gitu lho,
toleransi, sehingga bisa menyebabkan memaksa seseorang untuk pindah
agama dan lain sebagainya, atau menyudutkan agama lain, yakni Islam,”
tegasnya.
TPM berharap, berjalannya sidang kasus eksekusi mati Trio Mujahid
Jepara terhadap murtadin Omega Suparno bisa mengungkap adanya
penyimpangan dan pelecehan terhadap agama Islam.
Pasalnya, dari berbagai kasus pelecehan agama yang ada selama ini,
Islam dan umat Islam yang selalu menjadi korbannya. Untuk itu, kasus
eksekusi mati terhadap murtadin Omega Suparno bisa menjadi pencerahan
bagi masyarakat.
...Jadi yang kita harapkan dalam sidang ini, bisa ada pencerahan
terhadap toleransi beragama, penyimpangan agama, dan pelecehan agama
itu akan bisa terungkap gitu lho, ini yang akan menjadi pelajaran
berharga...
“Jadi yang kita harapkan dalam sidang ini, bisa ada pencerahan
terhadap toleransi beragama, penyimpangan agama, dan pelecehan agama itu
akan bisa terungkap gitu lho, ini yang akan menjadi pelajaran
berharga,” jelasnya.
Dari itu, TPM meminta kepada siapapun untuk bersikap arif dan bijak dalam melihat dan memahami toleransi beragama.
“Ini harus dicermati secara arif, bijak dan ini menjadi pelajaran
bagi daerah-daerah lain. Dimana toleransi beragama itu tidak berarti
tidak harus disepelekan gitu lho,” tandasnya