PBB
secara simbolis memberi pengakuan atas Palestina sebagai sebuah negara.
Bagi yang memimpikan Palestina merdeka sebagai sebuah negara bangsa,
peristiwa ini tentu dipandang sebagai hal yang menggembirakan.
Seolah-olah dengan pengakuan ini persoalan Palestina dan perjuangan
panjang rakyatnya sudah selesai begitu saja.
Tapi tahukah anda, bahwa pengakuan Palestina sebagai sebuah negara oleh
PBB ini sebenarnya harus dibayar mahal dengan pengakuan Israel sebagai
negara? Dan tahukah pula anda, bahwa yang sesungguhnya diuntungkan dari
keberadaan keduanya adalah entitas Yahudi juga? Betapa tidak, fakta
menunjukkan, bahwa lebih dari 50% penduduk Palestina justru beragama
Yahudi. Sementara sisanya beragama nasrani dan sebagian kecil yang
merupakan Muslim.
(http://www.pedomannews.com/asia-afrika-australia/9090-mehdawi-50-penduduk-palestina-beragama-yahudi)
Sungguh, disadari atau tidak, selama ini kita sudah masuk perangkap yang
diciptakan Barat sebagai sekutu terbaik Israel. Perangkap yang membuat
kita berani mengkhianati khalifah Umar bin Khaththab pembuka kunci
al-Quds, Shalahuddin Al-Ayubi dan para syuhada pembebas Palestina di
masa khilafah serta para syuhada intifadhah.
Perangkap tersebut adalah opini tentang "memerdekakan Palestina" sebagai
negara bangsa dan membangun "Perdamaian"
dengan Yahudi. Padahal kata "perdamaian" dan
seruan/propaganda/tuntutan "kemerdekaan Palestina" dari penjajahan
Israel hanyalah jebakan agar umat Islam bersedia menerima solusi jalan
tengah dan mengakui keberadaan entitas Yahudi berikut negaranya yang
bernama
Israel. Seolah-olah, kita diminta berdamai dengan perampok yang masuk
rumah kita, kemudian membunuhi anak2 kita dan memperkosa isteri, anak
perempuan dan
saudari2 kita, lalu membuat diktum2 kesepakatan tentang pembagian
otoritas atas rumah yang sebenarnya milik kita.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya akar masalah Palestina adalah "adanya
tanah
kaum Muslimin yang dirampas" oleh Yahudi la'natullah 'alayhim. Solusi
syar'iy atasnya hanyalah satu, yakni JIHAD untuk mengusir mereka dari
tanah milik umat Islam, baik dengan
jihad yang bersifat defensif seperti dilakukan hari ini, maupun dengan
jihad ofensif dibawah komando seorang khalifah yang akan mengerahkan
seluruh potensi umat Islam di negeri2 Muslim, termasuk angkatan
bersenjatanya.