Waktu jam sembilan pagi, empat orang berseragam turun
dari mobil dan bergerak medekati rumah berwarna putih. Di bajunya ada
tulisan KPK. Empat laki-laki itu tampak gagah dan tegap semua. Masih ada
dua orang menunggu di mobil, salah satunya berseragam seperti polisi.
Langkah mereka dengan pasti menuju rumah yang di depanya ada gambar PKS.
Tidak jauh dari situ para ibu-ibu yang sedang merubung tukang sayur
saling berbisik dan mata mereka mencuri pandang kepada empat lelaki yang
bergerak memasuki pagar rumah yang tidak terkunci. Salah seorang mereke
maju keteras dan mengetuk pintu. Tidak ada sahutan.
Salah seorang ibu paruh baya yang tadi ikut berrgerombol merubung tukang
gerobak sayur berjalan tergesa ke tempat empat laki-laki itu berdiri.
“ Ada apa pak?” Tanya mbok minem, dia berdiri mengambil posisi dekat pintu.
“ Saya mencari pak Karyo Sasmito” kata lelaki berkumis itu menyebut nama saya.
“ Bapak lagi nggak ada di rumah” kata mbok minem setengah takut.
“ Kemana pak Karyo pergi?” Tanya lelaki di sebelahnya si kumis bertanya.
“nggak tau pak” Jawab mbok minem berbohong. Dia mencoba menutupi
keberadaan majikanya. Takut kalau yang memakai baju ada tulisan KPK itu
orang berniat jahat.
“ Ibu nggak perlu takut, nggak perlu bohong gitu. Kami ini bukan orang
jahat” kata orang yang tidak berkumis dan suaranya lebih lembut itu. Dia
tahu mbok minem bohong. Orang kalau tidak biasa berbohong kalau mencoba
bohong gampang ketahuan. Beda dengan orang yang sudah biasa berbohong,
mereka bisa berakting seperti bintang filem.
“ Ya sudah…kalau begitu” kata si lelaki berkumis sambil menyerahkan amplop .
“ Katakan saja sama bapak, ini urusan uang yang di cuci di tempat bapak.
Gitu aja ya” Kata lelaki yang tidak berkumis, lalu mereka pamitan.
Setelah empat laki-laki itu masuk mobil mbok minem kembali ke tukang
sayur.
“ Ada apa mbok minem?” Tanya ibu tukang sayur. Ibu-ibu lain diam, serius, menanti jawaban.
“Ada uang yang di cuci di tempat bapak katanya” sahut mbok minem sambil
mengambil belanjaanya. Lalu bergegas kembali ke rumah majikanya itu.
Sampai di dapur mbok minem masih terbayang kata-kata orang KPK tadi. Ada
uang di cuci di tempat bapak. Artinya bapak mencuci uang. Apa ini sama
dengan kasus pencucian uang yang lagi rame di Tivi. Mbok minem tahu itu
karena sering ikut nguping kalau lagi membersihkan ruang keluarga.
Kalau Bapak lagi nonton Tivi. Bapak senengnya nonton berita, apalagi
semenjak ada cerita-cerita cuci uang. Ada apa ya? Apa bapak juga tukang
cuci uang? Wah Bapak bisa masuk penjara. Tapi asik bisa masuk Tivi juga,
piker mbok minem. Jadi terkenal siapa tahu mbok minem juga di
Tanya-tanya sama tukang Tivi itu. Tapi kasian amat bapak. Apa iya dia
terlibat seperti itu. Selama ini mbok minem tidak melihat bapak
bekelakuan aneh. Orangnya baik banget dan rajin Sholatnya. Apa memang
bapak sama seperti mas patonah dan pak LHI yang katanya tukang cuci uang
di Tivi yang sudah di tangkep KPK. MInem tiba-tiba merasa takut juga.
Dia sering mencuci uang pak karyo yang ketinggalan di celana. Pernah ada
seratus ribuan sampai cuma uang logam recehan. Apa dirinya juga akan di
tangkap. Wah gawat.
Kayaknya nggak mungkin deh. Tapi siapa tahu? Mbok minem penasaran,
sambil ngasih surat nanti sore kalau bapak sudah pulang kerja mbok minem
mau langsung nanya ke bapak saja, begitu tekadnya.
Tapi sampai Suara adzan isya sudah terdegar dari masjid. Tapai bapak belum pulang.
HP minem berbunyi ada sms masuk. “nem saya tidak pulang, ada urusan di kantor polisi” begitu pesan dari bapak.
Pagi ini tukang sayur parker di pojok pagar halaman rumah majikan minem.
Ibu-Ibu bergerombol disitu lebih banyak dari biasanya. Bukan Cuma mau
beli sayur, tapi mau mendengar kabar dari minem, apa sebenarnya yang
terjadi sama pak Karyo Sasmito. Tiga desa seputar kampung majikan minem
sudah heboh. Beritanya Pak Karyo sasmito di tangkap KPK. Si mBak tukang
sayur itulah salah satu penyebar beritanya. Tiap-tiap sampai di tempat
langgananya tukang sayur itu ngobrol, topiknya ya itu tadi, Pak karyo
sasmito di tangkap KPK. Penyebaran berita ini juga di bantu para ibu-ibu
pelanggan tukang sayur. Seterusnya di lanjutkan lewat SMS ke teman
ngerumpi masing-masing. Maka dalam waktu kurang dari sehari berita sudah
heboh. Di tambah bumbu-bumbu sesuai selera tukang sayur dan ibu-ibu
itu.
“ Gimana nem kabar pak Karyo?” kembali tukang sayur bertanya dan para
ibu-ibu yang haus berita itu pasang telinga dengan seksama.
Minem Cuma diam
“Ayo nem..piye kabare bosmu (gimana kabar pak Karyo)” desak ibu yang pake daster merah.
“Tadi malem pak karyo sms, katanya dia di kantor polisi” kata minem.
“Ohh….” Mulut para ibu itu melompong.
Para tetangga tidak menyangka pak karyo yang ternkenal jujur itu
korupsi. Pasti korupsi, karena setiap yang di tangkap KPK berarti pasti
korupsi. Tidak salah lagi. Ada yang senang dengar berita ini. Ada juga
yang ragu. Ada juga yang sedih. Ada juga yang tidak percaya, seperti,
kang salam. Semua ngobrol dengan versinya masing-masing. Intinya Pak
karyo di tangkap KPK. Padahal minem sendiri tidak pernah berkata begitu.
Tapi berita sudah menyebar kemana-mana. Para suami dan anak kecilpun
ikut membicarakan Nasib pak Karyo Sasmito.
Sementara Itu kang salam teman pak Karyo sejak kemarin terus mencoba
menelpon sahabatnya itu. Tapi tak kunjung diangkat. Jawaban operator di
luar jangkauan, atau tidak aktif. Tapi untunglah barusan ada nada dering
itu. Kang salam terus mencoba lagi, hingga sebuah suara mencul:
“Halo kang salam apa kabar? Dari tadi kok miskolin aku, ada apa to” suara Pak Karyo.
“Kamu sekarang di mana to? “ Tanya kang salam.
“Oh…aku ada di Surabaya e..ada apa lam?” Tanya karyo.
“lho katanya kamu di kantor polisi, ditangkap KPK”
“sopo sing ngomong ngono?”
“Jarene minem to (katanya si minem)”
“Weleh…ngawor itu. Aku ga tau ngomong ngono lam (saya gak pernah bicara gitu kok)”
“Oh…jadi sekarang kamu di mana to”
“Ya di surabaya. Tempat adikku, dia mendadak telpon aku. Dia sakit. Aku memang nggak sempat bilang minem lam. “
“Masalah kantor polisi itu gimana ceritanya?”
“Aku di jambret, untung dompetku ndak hilang. Jambretnya ketangkep, terus kita ke kantor pulisi”
“Yang orang KPK kerumahmu itu kata si minem?”
“Itu Bukan KPK pemberantas korupsi, itu KPK Koperasi Pedagang Keliling
lam. Mereka itu pengurus pusatnya dari jakarta. Ada uang mereka yang
kena cuci sebanyak sejuta. Waktu itu si tukang masaknya di kantor
koperasi keliling itu nyuci laundry ke tempatku lam. Untung saja
karyawanku jujur. Uangnya sudah di kembalikan kemarin siang. Udah
selesai urusanya”
“Oh…di sini hebohnya bukan kepalang, katanya kamu di tangkap KPK karena terlibat pencucian uang”
“Ya udah lam, nanti aku jelasin ke warga waktu malam jumat, pas yasinan nanti ya”
“OK”
Pak Karyo sasmito geleng-geleng kepala. Orang sekarang ini senang
bergosip dan memelintir berita. Dia memang memasang bendera PKS di
rumahnya. Dia juga memelihara jenggot. Dia juga sering di pangil Pak KS
oleh teman-temanya dulu. Karena dia pensiunan Kepala sekolah. KS itu
singkatan dari Kepala sekolah. Sampai sekarang masih banyak yang
memanggil dia Pak KS. Apalagi setelah dia ikut jadi pengurus PKS
panggilanya makin singkat. PKS bukan pak KS lagi. Usaha binatu alias
laundry yang dia buat setelah pension juga di beri nama laundry PANCEN
KONCO SAE artinya teman yang baik, kalau di singkat ya PKS juga. Apa
karena itu lantas semua orang berpikir dia pasti benar-benar bersalah
dan di tangkap KPK. Ngawur Logikanya. KPK itu cerdas, sama dengan PKS.
PKS laundryku memang pernah mencuci uang tapi uang beneran, dan itu
justru milik KPK, koperasi pedagang keliling anggotanya termasuk si
tukang sayur yang tukang nyebar berita yang nggak bener itu. Informasi
sepotong sepotong dan sesuai selera dan gaya dia waktu menyampaikanya.
Akhirnya jadi makin runyam urusanya.
http://politik.kompasiana.com/2013/05/23/pks-benar-benar-mencuci-uang--558702.html