dapatakan aplikasi android update berita PKS
Downlod Now
Kronologi Penculikan Densus 88 Terhadap Iwan Sasongko
KENDAL (voa-islam.com) – Pekan lalu menjadi
momen penting bagi Densus 88 Antiteror Mabes Polri karena berhasil
“panen” terduga teroris disejumlah tempat. Di pulau Jawa seperti
Jakarta, Tangerang, Bandung, Kebumen, Batang dan Kendal, Densus 88
menangkap hidup dan menembak mati beberapa aktivis Islam yang diduga
sebagai teroris pada Rabu (8/5/2013).
Sedangkan di pulau Sumatra, tepatnya di Lampung, Densus 88 menangkap
empat orang terduga teroris pada Kamis (9/5/2013). Namun, Kapolda
Lampung Brigadir Jenderal Heru Winarko enggan merinci nama dan identitas
orang tersebut. Tapi versi lain menyebutkan bahwa Densus 88 menangkap
tujuh aktivis Islam di Lampung yang diduga sebagai teroris dan terkait
dengan jaringan di Jawa.
Untuk penggrebekan di Batang dan Kendal, Densus 88 menangkap
hidup-hidup dua orang dan menembak mati satu orang. Yang ditangkap
hidup-hidup bernama Supiyanto alias Yanto di Kecamatan Limpung Kabupaten
Batang dan Purnawan Adi Sasongko alias Iwan di Kecamatan Rowosari
Kabupaten Kendal. Sedangkan yang ditembak mati bernama Untung Hidayat
alias Abu Roban di Kecamatan Limpung Kabupaten Batang.
Terkait hal itu,
Team voa-islam.com pada hari Minggu
dan Senin 12 dan 13 Mei 2013 melakukan penelusuran ke Batang dan Kendal
untuk mencari tau kronologi yang sebenarnya. Dari penelusuran tersebut
ternyata ditemukan beberapa data dan fakta yang sangat bertolak belakang
dengan apa yang selama ini diberitakan media massa pada umumnya.
Berikut ini kronologi penangkapan sadis, kejam dan tak manusiawi
Densus 88 terhadap Iwan Sasongko dari sumber terdekat disekitar rumah
Iwan baik kesaksian dari para tetangganya maupun saudaranya dan Bu Rini
sendiri, istri dari Iwan Sasongko.
...Sore itu ada beberapa orang yang bertanya-tanya tentang mas Iwan.
Saya kira itu temannya mas Iwan mas. Tapi dalam pikiran saya, temannya
mas Iwan kok pakai kalung salib...
Rabu, 8 Mei 2013
Menurut kesaksian dari Bu Ida (nama samaran), tetangga dekat Bu Rini,
Rabu sore tepatnya habis ashar ada dua orang yang berbadan tegap dan
tinggi bertanya-tanya tentang pribadi Iwan. Saat itu Bu Ida menyangka
bahwa dua orang tersebut temannya Iwan. Sebab dirumah Iwan biasanya ada
beberapa kawannya yang kesitu.
Namun persangkaan Bu Ida hilang tatkala ada empat orang lainnya yang
menghampiri dua orang tadi, yang salah satu dari ke-empat orang tersebut
yang mempunyai raut wajah seperti orang Ambon dan mengenakan kalung
salib.
“Sore itu ada beberapa orang yang bertanya-tanya tentang mas Iwan.
Saya kira itu temannya mas Iwan mas. Tapi dalam pikiran saya, temannya
mas Iwan kok pakai kalung salib. Selain itu, kalau temannya mas Iwan kok
kenapa gak langsung menuju kerumahnya,” herannya.
Sementara itu, team voa-islam.com yang diantar Bu Anis (nama samaran)
dan beberapa ikhwan Rowosari yang merupakan teman dan tetangga Iwan
berhasil menemui Bu Rini yang berada disebuah rumah di Rowosari. Saat
itu, Bu Rini masih dalam keadaan syok, trauma dan ketakutan, sehingga
tidak begitu banyak bicara.
...Penangkapan gimana mas, itu namanya penculikan. Kalau mau nangkap
orang itu yaa setau saya pakai surat penangkapan, tapi ini ndak ada (surat penangkapan -red) sama sekali...
Saat ditanya team voa-islam.com, apakah saat itu Iwan ditangkap
sedang melaksanakan sholat magrib atau setelah selesai sholat, Bu Anis
malah menjawab bahwa itu bukan penangkapan tapi penculikan. Menurutnya,
jika Iwan ditangkap Densus 88 atau aparat kepolisian, harusnya
menunjukkan surat penangkapan.
“Penangkapan gimana mas, itu namanya penculikan. Kalau mau nangkap
orang itu yaa setau saya pakai surat penangkapan, tapi ini ndak ada
(surat penangkapan -red) sama sekali,” ujar Bu Anis dengan nada geram.
Bu Anis juga menceritakan sebagaimana cerita dari Bu Rini bahwa
kejadian penangkapan Iwan bertepatan saat Iwan sedang melaksanakan
sholat magrib bersama Hasan, anak pertamanya yang berumur 6 tahun. Saat
itu, tanpa mengedepankan etika sopan santun, Densus 88 langsung
mendobrak pintu depan, samping dan belakang rumah kontrakan Iwan.

Sementara itu, Bu Rini yang awalnya takut dan hanya mendengarkan Bu
Anis cerita, akhirnya ikut angkat bicara. Dia mengungkapkan peristiwa
biadab tersebut karena tidak tahan dengan kekejian Densus 88 terhadap
suaminya yang sedang sholat dikamar depan dan anaknya yang ditodong
senapan laras panjang Densus 88.
...Saat semua pintu didobrak, mas Iwan masih dalam keadaan berdiri.
Lalu saat rukuk itu, mas Iwan ditendang dari belakang kemudian
kepalanya ditutup dengan helm milik mas Iwan. Tak hanya itu saja,
setelah jatuh, mas Iwan juga diinjak-injak...
“Saat semua pintu didobrak, mas Iwan masih dalam keadaan berdiri.
Lalu saat rukuk itu, mas Iwan ditendang dari belakang kemudian kepalanya
ditutup dengan helm milik mas Iwan. Tak hanya itu saja, setelah jatuh,
mas Iwan juga diinjak-injak kemudian diikat tangannya kebelakang dengan
tali putih,” ucap Bu Rini sambil menangis.
Sebelum Iwan dibawa keluar, dirinya dan ketiga anaknya, Hasnah (1
tahun), Hafshah (4 tahun) dan Hasan (6 tahun) disuruh Densus 88 terlebih
dulu. Namun saat dirinya mau mengambil dan memakai jilbab tidak
dibolehkan Densus 88.
Bahkan anaknya, Hasan yang saat itu menangis karena melihat
orangtuanya diperlakukan biadab oleh Densus 88 malah dibentak-bentak dan
disuruh diam sambil ditodong senapan laras panjang.
...Saat saya mau makai jilbab kok gak boleh. Bahkan anak saya
ditodong senapan panjang oleh Densus. Densus itu Islam apa bukan sich?
Anak kecil kok digitukan dan orang sholat kok ditendang dari belakang
dan dinjak-injak...
“Saya dan anak saya malam itu dibawa kesebelah rumah sebelum mas Iwan
dibawa keluar. Tapi saat saya mau makai jilbab kok gak boleh. Bahkan
anak saya ditodong senapan panjang oleh Densus. Densus itu Islam apa
bukan sich? Anak kecil kok digitukan dan orang sholat kok ditendang dari
belakang dan dinjak-injak,” imbuhnya sambil menitikan air mata.
Sesaat dirinya dibawa keluar, Iwan langsung dibawa keluar dan
dimasukkan kedalam mobil. Namun dirinya disuruh menunggu dirumah
tetangganya kurang lebih hampir setengah jam.
Saat dirinya kembali kerumahnya, rumah kontrakaannya tersebut sudah
berantakan semua dan beberapa barang berharganya seperti HP diambil
Densus 88 dan uang pesangon Iwan dari RSI Kendal, Jamsostek dan hasil
ternak kambing juga raip entah kemana.
Kamis, 9 Mei 2013
Pagi harinya sekitar pukul 07.00 WIB, Densus 88 bersama aparat
kepolisian berseragam dari Polda Jateng datang kerumahnya lagi yang
berada tepat didepan Sanggar Rias Aliya itu. Kedatangan Densus 88 untuk
mengambil barang bukti lainnya dan mengintrogasi Bu Rini.
...Itu buku kas koperasi saya pak, untuk apa diambil? Kemudian Densus
saat itu mengatakan, “Oiya ini salah, ini saya kembalikan...
Tapi karena kondisi Bu Rini yang saat itu masih syok, lemas dan
menangis terus, akhirnya Densus 88 hanya mengambil barang bukti dari
rumah Iwan yang kesemuanya tidak diketahui oleh Bu Rini. Saat mengambil
beberapa dokumen dirumahnya, Bu Rini sempat menegor Densus 88 karena
mengambil buku kas koperasi miliknya.
“Itu buku kas koperasi saya pak, untuk apa diambil? Kemudian Densus
saat itu mengatakan, “Oiya ini salah, ini saya kembalikan,” kata Bu Rini
yang juga mengajar bahasa Inggris di SDIT dekat rumahnya.
Namun anehnya, kata Bu Anis, saat dirumah Bu Rini, Densus 88
mengambil beberapa dokumen saja yang dimasukkan dalam tas ransel warna
biru. Tapi saat Densus 88 kerumah orangtuanya Iwan sekitar pukul 09.00
WIB, Densus 88 menunjukkan sebuah tas ransel biru yang berisi penuh
uang.
“Disini Densus mengambil dokumen saja yang ditunjukkan kepada Bu
Rini. Tapi sama orang tuanya mas Iwan, Densus nunjukkan bahwa “ini lho
tas yang berisi uang semua yang merupakan hasil rampokan anakmu”. Densus
ini mau buat skenario apa lagi sich,” tanya Bu Anis dengan nada emosi.