BEIJING — Sebagai salah satu negara maju di Afrika,
krisis politik di Mesir tentu saja menjadi perhatian dunia. Tak
terkecuali warga Republik Rakyat China yang merupakan negara dengan
penduduk terbanyak di Planet Bumi.
Lalu bagaimana pandangan orang China terhadap krisis politik di
Negeri Piramida itu? Berikut ini adalah ulasan yang dipublikasikan
Kantor Berita
Xinhua sebagaimana diterjemahkan Kantor Berita Antara, Jumat (12/7/2013).
Presiden sementara Mesir, Adli Mahmoud Mansour, belum lama ini mengumumkan serangkaian tindakan guna mencegah kerusuhan dan meredakan ketegangan di negaranya. Nyatanya, situasi politik di negeri tersebut tetap belum stabil. Kalau saja semua pihak mau menghentikan kerusuhan dan memulai dialog, Negara Piramida tersebut bisa terhindar dari kemelut yang terus berkecamuk.
Banyak pengulas mengatakan empat tanda tanya besar masih menyelimuti kancah politik Mesir saat ini. Pertanyaan
pertama adalah, “Bagaimana presiden terguling Mohamed Morsi akan ditangani?”
Sejak Mohamed Morsi digulingkan oleh
militer pada 3 Juli, keberadaannya tak diketahui sampai Rabu
(10/7/2013), ketika Pemerintah Mesir akhirnya menyiarkan informasi
terkini mengenai dia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Badr Abdelatty
memberitahu wartawan bahwa presiden terguling tersebut saat ini ditahan
di satu “tempat aman, demi keselamatannya”.
Banyak pengulas mengatakan dalam situasi rusuh, militer Mesir mungkin
membiarkan Morsi “muncul” terlalu dini. Terlebih lagi, militer
melandasi alasan bagi penggulingannya karena “penampilan buruk Morsi”
dalam menangani krisis dalam negeri selama satu tahun belakangan.
Mereka menyatakan cara militer dan pemerintah peralihan menangani
Morsi akan mempengaruhi proses perundingan politik di Mesir, sebab Morsi
tidak melanggar hukum apa pun sebagai presiden terpilih dalam proses yang sah.
Pertanyaan
kedua adalah, “Bagaimana Ikhwanul Muslimin akan bereaksi?”
Pemerintah Mesir, Rabu lalu memerintahkan penangkapan pemimpin
Ikhwanul Muslimin Mohamed Badie dan beberapa anggota senior lain,
dengan tuduhan menghasut kerusuhan di Ibu Kota Mesir, Kairo. Setelah
penggulingan Morsi, Badie menyeru semua pendukungnya untuk menjanjikan
nyawa mereka guna melindungi Morsi.
Ikhwanul Muslimin terus menyelenggarakan demonstrasi besar guna
menentang pemerintah peralihan, dan menyerukan pemulihan jabatan Morsi
sebagai presiden. Banyak pengulas mengatakan ada dua pilihan bagi
Ikhwanul Muslimin, yakni melanjutkan perlawanan, atau berkompromi dan
berharap bisa kembali dalam pemilihan anggota parlemen dan presiden
Mesir mendatang.
Pilihan pertama akan mengakibatkan Ikhwanul Muslimin menghadapi
penindasan dari militer yang tak baik bagi stabilitas situasi di Mesir
serta masa depan politik kelompok itu. Namun, dengan menilai situasi
saat ini, Ikhwanul Muslimin takkan “diam saja dan menelan penghinaan
serta penistaan” dalam jangka pendek.
Pertanyaan
ketiga adalah, “Apakah peralihan politik akan berjalan mulus?”
Adli Mansour menunjuk tokoh utama Front Penyelamatan Nasional (NSF)
Mohamed ElBaradei sebagai Wakil Presiden Urusan Luar Negeri dan mantan
menteri Hazem AL-Beblawi sebagai perdana menteri di pemerintah
peralihan. Ia juga telah menetapkan jadwal bagi pemilihan umum awal tahun depan.
Semua tindakan itu mengirim sinyal positif bagi perujukan, tapi tak
diketahui apakah kekuatan Islam yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin
akan mengakui semua tindakan tersebut. Menurut beberapa laporan,
Al-Beblawi bermaksud bekerja sama dengan Ikhwanul Muslimin dalam menyusun pemerintah sementara, dan menjanjikan kelompok itu beberapa jabatan menteri.
Namun, juru bicara Ikhwanul Muslimin mengatakan organisasi tersebut tak menerima “uluran persahabatan”
yang dilakukan oleh pemerintah sementara. Media setempat melaporkan
Al-Beblawi berharap bisa menyatukan kekuatan Islam untuk membentuk
kabinetnya. Namun, surat penangkapan terhadap Badie membuat keinginannya
sulit dilaksanakan dalam jangka pendek.
Pertanyaan
keempat adalah, “Seperti apa masa depan demokrasi di Mesir?”
Rakyat Mesir menggulingkan rezim Hosni Mubarak pada Februari 2011,
atas nama demokrasi, dan sekarang presiden terpilih juga digulingkan.
Banyak pengulas mengatakan penggulingan itu menjadi kemunduran bagi
demokrasi dan melukai kepercayaan rakyat Mesir pada demokrasi.
Setelah Morsi memangku jabatan, kekuatan Islam telah memperoleh
kekuatan di dalam organisasi nasional dengan langkah yang terlalu cepat
buat mereka guna menangani kebutuhan kekuatan sekuler, yang akhirnya
mengakibatkan keambrukan kekuatan agama. Penggulingan presiden yang sah
oleh militer dan oposisi telah meletakkan masalah tersembunyi bagi masa
depan demokrasi di Mesir.
Banyak pengulas mengatakan satu-satunya jalan ke luar dari krisis
saat ini ialah semua pihak di Mesir mesti menghentikan kekerasan
sesegera mungkin dan memperlihatkan ketulusan bagi dialog politik.